Loading...
Disable Preloader

Alkisah ada serombongan musafir. Setelah melakukan perjalanan sekian lama, tiba-tiba sang pemimpin rombongan memerintahkan semuanya berhenti. Lalu dia mulai berpidato : "Saudara-saudara, sebentar lagi kita akan memasuki sebuah terowongan yang cukup panjang. Terowongan ini gelap dan kita tak boleh menyalakan penerang. Saran saya, jika kalian merasakan sesuatu, maka ambillah. Ambil sebanyak yang kalian bisa. Siapkanlah wadah-wadah untuk mengambilnya. Kalau kita sudah keluar dari terowongan itu, maka kita tak bisa lagi kembali".

 

Maka, mendengar pidato sang pemimpin, sebagian ada yang bersungguh-sungguh menyiapkan wadah. Namun lebih banyak yang cuek dan tak peduli. Yang penting saya sampai di tujuan pikir mereka. Ngapain repot-repot mengambil sesuatu yang tak jelas.

 

Tak lama kemudian, mulailah rombongan itu memasuki terowongan. Yang sungguh-sungguh, segera mengambil apapun yang mereka rasakan. Sementara yang tak peduli, memilih melenggang tanpa beban. Setelah cukup lama berjalan, sampailah mereka di ujung terowongan. Setelah sampai di luar, sang pemimpin memerintahkan agar semua orang membuka wadah-wadah mereka dan melihat apa barang-barang yang mereka ambil. Yang mengambil banyak bersorak penuh syukur, sementara yang mengambil sedikit juga bersorak tapi agak menyesal. Adapun yang tak mengambil menangis meraung-raung penuh penyesalan. Ternyata barang-barang yang diambil dari terowongan gelap tersebut adalah butiran emas, mutiara dan permata. Apa hendak dikata, mereka sudah tak bisa lagi kembali ke terowongan itu.

 

Sahabat, kisah di atas memang fiktif. Tapi kira-kira beginilah perumpamaan kita dengan Ramadhan. Bedanya Ramadhan itu tidak gelap seperti terowongan tadi. Ramadhan itu terang. Keutamaan-keutamaannya-pun kita sudah sangat  tahu, bahkan hafal. Tapi sayang, walaupun kita sudah tahu banyak "emas, mutiara dan permata" menghiasi terowongan Ramadhan, sebagian kita cenderung malas untuk mengambilnya.  Entah akan seperti apakah reaksi kita setelah keluar dari terowongan Ramadhan? Bergembira penuh syukur? Menyesal karena tidak optimal? Atau malah tak peduli sama sekali?

 

Mumpung kita masih di terowongan Ramadhan. Walaupun sudah hampir sampai ke ujungnya. Marilah kita raup sebanyak-banyaknya keutamaan Ramadhan. Jangan sampai setelah keluar menjadi orang yang menyesal...

Ingatlah, boleh jadi Ramadhan tahun ini, adalah Ramadhan kita yang terakhir...

 

"Bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (QS. Ali Imran : 133)



Share:


Komentar