Menangislah...
Jika itu bisa melapangkan gundah yang
mengganjal hatimu.
Bahwa Ramadhan sudah bergegas di akhir
hitungan. Dan tilawah al Qur'an tak juga beranjak dari juz empat.
Menangislah ...
Jika itu merupakan awal tekad kita untuk
menyempurnakan tarawih dan qiyamul lail
kita yang bolong-bolong.
Menangislah...
Biar butir bening itu jadi saksi di yaumil akhir.
Bahwa ada satu hamba Allah yang bodoh,
lalai, sombong lagi terlena.
Yang katanya berdo’a sejak dua bulan
sebelum Ramadhan, yang katanya berlatih puasa semenjak Rajab, yang katanya
rajin mengikuti taklim tarhib Ramadhan.
Tapi, sampai menjelang akhir Ramadhan
masih juga menggunjingkan kekhilafan temannya, masih juga tak bisa menahan
ucapan dari kesia-siaan, tak juga menambah ibadah sunnah… Bahkan hampir
terlewat menunaikan yang wajib.
Menangislah, lebih keras…
Karena Allah tak menjanjikan apa-apa
untuk Ramadhan tahun depan, apakah kita masih disertakan, sedangkan Ramadhan
sekarang sudah di detik-detik penghujung waktu.
Tak ada yang dapat menjamin usia kita
sampai kepada Ramadhan besok, sedang Ramadhan ini terlewatkan sia-sia.
Menangislah ...
Untuk Ramadhan yang akan hilang, bersama
nostalgia yang terus tumbuh bersama usia kita.
Menangislah...
Untuk dosa-dosa yang belum tentu
diampuni, tapi kita masih juga menambah dengan dosa baru. Berapa kali kita
sholat taubat, tetapi tak lama kemudian ada saja kelalaian yang kita buat?
Kita bilang tak sengaja? Tapi, mengapa
berulang dan tak juga kita mengambil pelajaran?
Menangislah ...
Tuntaskan semuanya di sini, malam ini.
Karena besok waktu akan bergerak makin
cepat, Ramadhan semakin berlari.
Tahu-tahu sudah hampir berakhir dan
kita belum bersiap untuk khusyu' i'tikaf.
Dan lembar-lembar al Qur'an menunggu
untuk dikhatamkan.
Dan lembar mata uang menunggu
disalurkan.
Dan malam menunggu dihiasi sholat
tambahan.
Sekarang, atau mungkin tidak ada lagi
sama sekali.
"Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
(ikhlas) kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus". (Qs.
Al-Bayyinah, 98:5).
-Satria Hadi Lubis-








