Kebaikan itu Cahaya Kebenaran
Lihatlah kebaikan yang dilakukan, jangan pandang siapa pelakunya. Karena itu lebih objektif dan lebih adil.
Dalam pandangan Islam, sikap adil adalah perintah agama, disebutkan dalam Al Qur'an, yang artinya, "Berlaku adillah kamu, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa' (QS. Al Maidah, 5 : 8).
Abu Hurairah RA, berkata, “Rasulullah menugaskanku untuk menjaga harta zakat. Lalu pada suatu hari ada seseorang yang menyusup hendak mengambil makanan, maka aku pun menyergapnya seraya berkata, "Aku benar-benar akan menyerahkanmu kepada Rasulullah" lalu ia bercerita dan berkata, “Jika kamu hendak beranjak ke tempat tidur maka bacalah ayat kursi, niscaya Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi." Maka Nabi pun bersabda, "la telah berkata benar padamu, padahal ia adalah pendusta. Si penyusup tadi sebenarnya adalah setan.” (HR. Bukhari Muslim)
Bila setanpun yang berkata benar ada pelajaran yang diambil darinya, apatah lagi bila itu dilakukan oleh saudara seiman. Kebaikan & kebenaran itu akan lebih bermanfaat jika mengesampingkan siapa pelakunya, fokuslah pada kebaikan & kebenaran itu sendiri.
Bersikap adil terhadap objektivitas, jangan menilai subjektif sebab penilaian seperti itu cenderung karena zhon & asumsi. Menilai atas dasar data & fakta yang sebenarnya, agar kebenaran itu tersebar ke banyak orang dan kebaikkan dirasakan manfaatnya bagi orang banyak.








