Digubah dari Tausiyah Ust. Oemar Mita, Lc.
Kenapa banyak orang yang sholat, banyak orang yang puasa, tapi dia tetap merasa frustasi dan depresi?
Padahal secara kasat mata, ibadahnya itu secara kuantitas begitu banyak. Rajin sholat wajib, tepat waktu, berjama'ah di masjid, rajin sholat sunnah, puasa sunnah senin kamis, juga rajin sedekah. Tapi hatinya masih merasa tak tenang. Frustasi, stress bahkan depresi..
KENAPA...??
Karena ibadahnya baru sekadar ritual anggota badan. Betapa banyak orang yang sholat tetapi hatinya berada di luar sholat. Betapa banyak orang yang puasa, menahan haus dan lapar, tapi pikirannya berkeliaran memikirkan hal-hal yang dilarang. Juga betapa banyak orang yang bersedekah tetapi pikirannya begitu dibenci Allah.
Secara zahir dia layaknya wali Allah, tetapi secara batin, hakikatnya dia adalah walinya setan.
Na'udzu billah...
Inilah yang menjadikan banyaknya orang yang rajin ibadah secara kuantitas tetapi ujung-ujungnya adalah frustasi dan depresi. Sebab hatinya tidak hadir, hatinya tidak sinkron dengan gerakan anggota badannya. Mulutnya mengucapkan Allahu Akbar, tapi pikirannya memikirkan pekerjaan, memikirkan rumah, dan lain-lain..
Padahal menghadirkan hati saat ibadah itu sangat penting. Bahkan itulah intinya ibadah tersebut. Makanya salah satu syarat dalam ibadah itu adalah menghadirkan hati, yang dimulakan dengan mengikhlaskan niat.
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Tha-ha : 14)









