Jati diri seseorang tidak dapat dinilai dalam waktu singkat. Hanya mengenal beberapa saat, bagaimana mungkin sudah diberi penilaian akhir?
Umar bin Khattab saja meletakkan
konsep untuk mengenal jati diri seseorang dengan tiga hal. Sudahkah engkau
bepergian jauh dengan orang itu? Sudah lamakah engkau hidup bertetangga
dengannya? Sudah bermuamalah dengan dirinya?
Iya, benar! Watak asli seseorang akan
terlihat dalam perjalanan. Pun jelas tampak setelah hidup berdampingan sebagai
tetangga. Dan bagaimana dalam interaksi hubungan bisnis dan lainnya.
Dermawan atau pelit. Sabar atau
temperamen. Malas atau rajin. Perhatian atau egois. Bijak ataukah serampangan. Lembut
ataukah kasar. Dan watak manusia lainnya akan tersingkap.
Dalam situasi normal, semua bisa saja
terlihat baik. Pada kondisi biasa, semua orang nampak bagus. Namun, apakah
hidup ini akan selalu normal? Pasti terus menerus biasa? Tentu tidak!
Pasti ada saat-saat sulit. Waktu-waktu
susah. Kondisi darurat. Suasana luar biasa. Tidak biasanya. Bukan normal yang
kita kenal. Disitulah, watakmu akan terbuka terang. Jati dirimu tersingkap.
Apa contohnya? Memberi dan berbagi.
Saat engkau sedang memiliki banyak
sesuatu. Engkau punya harta berlebih. Uangmu surplus. Stok makanan berlimpah. Lalu
engkau memberi dan berbagi kepada yang lain, itu banyak orang bisa melakukan.
Tetapi, saat engkau sedang tak punya. Ketika
engkau sendiri lagi membutuhkan. Engkau sendiri sedang kesulitan. Di sini jati
dirimu akan terbuka? Engkau dermawan dengan tetap berbagi. Ataukah engkau si
kikir itu yang untuk memberi masih berpikir.
Tulisan ini jangan jadikan alasan menilai orang lain. Tulisan ini untuk instropeksi diri sendiri. Nilailah diri kita sendiri! Untuk berbenah.. (aip)








