Al
Qurthubi dalam tafsir (18/19) menyebutkan
tentang Aisyah, ibunda kita, yang sedang berpuasa hari itu. Tidak ada makanan
untuk berbuka kecuali sepotong roti kering. Datang pengemis meminta.
"Berikan
roti kering ini untuknya!", perintah Aisyah
kepada pembantunya.
Pembantunya keberatan dan berkata,"Anda tidak punya makanan berbuka
nantinya".
Aisyah tetap memerintahkan untuk
memberi si pengemis itu.
Petang hari, ada tetangga datang memberi hadiah daging
kambing dengan roti gandum.
Kata Aisyah kepada pembantunya,"Ayo kita makan. Menu ini lebih baik
dari sepotong roti keringmu" .
Ibnu
Katsir dalam tafsirnya (4/338) menyebutkan
cerita Khudzaifah al Adawi di perang
Yarmuk :
Seusai pertempuran, ia mencari
sepupunya yang ternyata terbaring penuh luka. Sambil membawa air minum ia ingin
memberikan kepada sepupunya. Namun,terdengar suara kesakitan. Sepupunya meminta
agar air minum itu diberikan kepada orang lain yang bersuara kesakitan
tersebut.
Khudzaifah membawa air minum itu
kepada orang tersebut. Ketika akan minum, terdengar lagi suara orang lain yang
kesakitan. Orang kedua meminta agar air minum itu diberikan saja kepada orang
ketiga yang sedang terluka parah.
Khudzaifah membawa air minum ke orang
ketiga. Sesampainya ternyata ia telah gugur. Ia kembali ke orang kedua, rupanya
sudah gugur juga. Cepat-cepat ia menemui sepupunya yang ternyata pun telah
gugur.
Luar biasa! Dalam kondisi seperti itu,
masing-masing tetap ingin mendahulukan orang lain.
Al
Qurthubi juga menyebutkan kisah dari Abul Hasan al Anthoki :
Beliau bersama tiga puluh orang lebih
sedang berada di perkampungan Rayy. Hanya ada beberapa potong roti yang jelas
tidak dapat mengenyangkan mereka. Sepakat! Roti-roti itu dipotong-potong kecil.
Mereka duduk berkumpul jadi satu. Lampu dimatikan supaya tidak sungkan makan.
Beberapa waktu kemudian setelah lampu
dinyalakan, roti-roti itu masih utuh. Tidak berkurang sedikitpun. Masing-masing
mengalah dan berpikir agar temannya saja yang makan.
Subhanallah! Akhlak luar biasa.







